Istri oh istri

Sebagai seorang suami harus bisa memperlakukan istri seperti orang lain. Bukan karena apa-apa. Namun karena istri sendiri tidak bisa memahami relung hati suami. 

Suami sudah baik sama mbokayu sepupu. Istri nyinyir terus. Urusan uang. Padahal seharusnya nyinyir dulu ke dirinya sendiri apakah sudah menjalankan tugasnya sebagai istri atau tidak. Seharusnya istri ikut kebijakan suami selama tidak melanggar syariat. Emang menghutangi mbak yu sepupu melanggar syariat?? Kan tidak. 

Kalau rezeki pasti tidak kemana. Prinsip  sepele tapi sering lupa. 

Tentu saya membolehkan istri nyinyir. Kepada siapapun juga boleh nyinyir. Itu hak dia. Masa sama perspektif orang lain di hadang. Itu kan menambah wawasan. Menambah sudut pandang. 

Lagian menghutangi orang juga kan ibadah. 

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarag: 280)

Jangan jangan Gusti Allah sudah sengaja mendatangkan orang untuk berhutang agar harta menjadi bersih. Agar mendapatkan pahala dari ibadah membantu orang. Dan ini posisinya juga keluarga.


Tapi ini benar benar pertanda istri dirasuki akhlak tidak baik. Jauh dari rasa bijaksana. Dan saya sebagai suami harus jaga jarak dengan karakter seperti itu. 

Karakter istri tidak ikut kebijakan suami adalah karakter orang mungkar. Sama seperti supir nyetir ke barat tapi setirnya di belokan ke timur. Sang supir harus bisa jaga jarak. 

Orang berakhlak tidak baik harus dihindari. Karena akan menular. Dan itu dibuat oleh dirinya sendiri.












Posting Komentar untuk "Istri oh istri"