Anak Desa Masuk Hotel

Hasanudin Abdurakhman
Orang Kampung Masuk Hotel
Ini adalah masa-masa yang sangat menyenangkan buat saya. Bermula dari panggilan telepon dari kantor Japan Indonesia Forum (JIF), pada suatu hari. "Mr. Hasanudin, congratulation, you have passed the selection for Asian Youth Fellowship program." Artinya, saya lolos seleksi, mendapat beasiswa untuk kuliah ke Jepang.
Hari-hari berikutnya adalah masa persiapan untuk berangkat. Saya akan menjalani pelatihan bahasa Jepang di Kuala Lumpur, sebelum pergi ke Jepang. Masa pelatihannya 1 tahun. Saya berangkat ke Jakarta, mengurus semua dokumen yang diperlukan, lalu pada hari yang ditetapkan, saya pun berangkat.
Ada sedikit uang tabungan yang saya bawa. Dengan uang itu saya membeli baju di Matahari, Senen. Celana warna gelap, kemeja biru, warna kesukaan saya, dan sepasang sepatu warna hitam. Pakaian itu saya kenakan di hari berangkat itu, ditambah dasi pemberian orang sebelum saya berangkat dari Pontianak.
Sekitar pukul 10 pagi pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Sepang, Kuala Lumpur. Dada saya bergemuruh, rasanya cukup kuat untuk mengalahkan gemuruh mesin pesawat yang sedang bergerak menuju tempat parkirnya. Betapa tidak. Saya baru saja mendarat di Kuala Lumpur! Ini adalah kunjungan pertama saya ke luar negeri. Ini adalah langkah pertama terwujudnya mimpi saya. Saya ingin sekolah ke luar negeri, itu mimpi saya dulu. Kini itu bukan mimpi lagi.
Setelah melewati pemeriksaan imigrasi saya menuju ke pintu keluar. Saya sempat agak khawatir, apakah yang menjemput saya benar-benar datang? Ah, tapi itu cuma sebentar. Di pintu keluar segera saya temukan seseorang, saya bisa pastikan ia orang Jepang, membawa papan kecil bertuliskan "Mr. Hasanudin". Saya segera menghampirinya.
"Hello, I am Hasanudin."
Dia menyambut saya dengan senyum lebar.
"Welcome to KL. My name is Hamano."
Dia kemudian mengajak saya keluar bangunan bandara. Tak lama kemudian kami dijemput oleh sebuah mobil, di lobby bangunan. Di dalam mobil sudah ada seorang anak muda Jepang. "This is Mr. Takenaka, he has just arrived from Osaka. He will take care of you and other students during your stay in KL," kata Mr. Hamano menjelaskan.
Kami tiba di sebuah tempat di pusat kota KL. Belakangan saya tahu namanya kawasan Bukit Bintang. Tempat yang kami tuju adalah sebuah hotel, namanya Federal Hotel. Mr. Hamano melakukan proses check in untuk saya. Ia kemudian menyerahkan sejumlah uang ringgit, uang kedatangan, sambil menjelaskan bahwa uang beasiswa akan diberikan nanti. Ia juga menjelaskan bahwa biaya hotel sudah dibayar. Saya hanya perlu membayar makan untuk keperluan saya. Sebelum meninggalkan saya, dia berpesan,"Don't make international call from your room, it is expensive. Use public phone."
Saya kemudian diantar ke kamar oleh petugas hotel. Tiba di kamar saya langsud sujud syukur. Semua ini terasa bagai mimpi. Hotel ini terasa sangat mewah buat saya. Eh, inilah pertama kali saya masuk ke kamar hotel. Semua serba luar biasa.
Saya merasa seperti Kevin, anak kecil yang terpisah dari keluarganya saat pergi liburan dalam film Home Alone 2. Saya cobai semua barang yang ada di kamar hotel. Saya telepon resepsionis, sekedar untuk tanya arah kiblat, padahal saya sudah melihat tandanya. Sekedar untuk mencoba teleponnya. Kemudian saya isi bath tab dengan air panas sampai penuh, lalu saya berendam di situ. Kemudian saya pakai hair dryer untuk mengeringkan rambut. Lalu saya rebahan, menikmati kasur hotel yang empuk.
Puas mencobai semua peralatan di kamar, saya keluar hotel, berbekal sejumlah uang yang saya terima tadi. Di sebelah hotel ternyata ada mal. Saya masuk ke situ untuk makan siang. Saya pergi ke gerai McDonald. Ya, saya ingin mencobanya di sini. Di Indonesia baru sekali saya makan di McDonald. Saya agak kecewa ternyata McDonald di KL tidak menyediakan hidangan nasi. Tapi tak apa, hidangan hamburger yang saya makan lezat belaka.
Selesai makan saya beli kartu telepon. Saya telepon Teh, kakak saya. Ingin rasanya menelepon Emak, tapi tak ada telepon di rumah tempat Emak tinggal.
"Aku dah sampai ni, di Kuala Lumpur."
"Alhamdulillah, selamat ya."
"Iya, aku diinapkan hotel. Baguuuus benar hotelnya."
"Bertuahnya kau, Dik. Banyak-banyak bersyukur ya."
"Iya. Sampaikan salam untuk Emak, ya. Bilang, aku dah sampai."
Singkat saja pembicaraan telepon kami, karena ongkosnya mahal. Saya kembali ke hotel, menikmati kamarnya lagi. Kali ini saya temukan pesawat telepon di kamar mandi. Saya telepon lagi resepsionis, sekedar untuk mencoba pesawat telepon itu. Kemudian saya menyalakan TV, menonton sambol tiduran di kasur empuk. Kadang saya pindah ke sofa, juga untuk menikmati keempukannya.
Dua malam saya menginap di situ, kemudian saya dipindahkan ke asrama yang telah disiapkan. Belakangan baru saya tahu bahwa saya dan beberapa pelajar yang ikut program ini terpaksa diinapkan di hotel karena kamar asrama yang disediakan untuk kami belum siap.
Tahun 2002 ketika saya lulus doktor, saya sempatkan untuk mampir ke KL, memberi kuliah ke sekolah tempat saya belajar bahasa Jepang, kepada para peserta program yang sama. Waktu itu saya sudah bertiga, bersama istri dan Sarah yang baru berumur 7 bulan. Sengaja saya menginap kembali di hotel yang sama.
Kali ini saya tentu tidak lagi riang gembira melihat kamar hotel. Kini saya bergembira karena saya sudah lulus kuliah. Perjalanan panjang yang berat, berakhir.
16 jam · Publik


Hasanudin Abdurakhman
Bagi yang anaknya akan kuliah tahun ini, sebaiknya dibekali dengan buku ini.
From Dream to Habits
Bisa dibeli di sini https://tokopedia.link/L1DSM0P1Y8
Sejak tahun 2012 saya pergi ke kampus-kampus, berbicara dengan mahasiswa, dengan satu tema: rencanakan kuliahmu, ubah kebiasaanmu. Saya menyaksikan banyak mahasiswa lulus kuliah tanpa kompetensi. Saat lulus mereka bingung mau kerja di mana. Sebagian akhirnya menganggur, atau kerja serabutan.
Selama kuliah mereka seperti berada dalam dunia fantasi. Fantasinya, kalau lulus kuliah akan dapat kerja, gaji tinggi, jadi orang sukses. Mereka menganggap kuliah itu seperti kotak hitam ajaib yang serta merta akan membuat mereka jadi orang hebat.
Soalnya sederhana. Untuk bisa bekerja, diterima masuk di sebuah perusahaan atau lembaga, seseorang harus memenuhi sejumlah syarat. Penuhi syarat itu selama kuliah, maka Anda akan diterima bekerja. Orang-orang yang tidak diterima itu adalah orang-orang yang tidak memenuhi syarat.
Yang harus dilakukan adalah, pertama bermimpi. Bermimpi artinya menetapkan tujuan, ke mana hendak masuk setelah lulus kelak. Berdasarkan tujuan itu strategi untuk mencapainya dirancang.
Proses selanjutnya adalah visi, mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk mencapai mimpi tadi. Apa saja syarat yang harus dipenuhi, dan bagaimana caranya untuk memperoleh syarat-syarat itu.
Setelah itu diketahui, tetapkan rencana untuk mengumpulkan syarat-syarat itu. Ada syarat kompetensi yang didapat melalui kuliah. Maka, mahasiswa harus memastikan dari setiap kuliah mereka mendapatkan kompetensi yang diperlukan. Kuliah bukan sekadar hadir, ikut ujian, dan dapat nilai. Yang dapat nilai A sekalipun belum tentu kompeten.
Kompetensi yang tidak tersedia dari mata kuliah harus dicari sendiri, melalui kursus, seminar, atau belajar mandiri. Mahasiswa harus bisa belajar secara mandiri. Kemampuan belajar mandiri adalah suatu kompetensi yang sangat penting yang harus mereka miliki.
Langkah selanjutnya, eksekusi rencana tadi. Jangan hanya rencana-rencana tanpa aksi. Setumpuk rencana tidak pernah bisa mengubah apapun. Bangunlah setiap pagi dengan daftar tindakan yang harus dilakukan hari itu. Pastikan semua tindakan itu terlaksana. Jangan tunda.
Perhatikan pula, rencana bukan sekadar daftar tindakan. Rencana adalah daftar target yang harus dicapai, bagaimana, kapan, dan di mana mencapainya. Fokusnya bukan sekadar bertindak melaksanakan rencana, tapi memastikan hasil yang ingin dicapai.
Untuk bisa memastikan, diperlukan evaluasi dan kontrol. Lakukan evaluasi harian dan mingguan untuk memastikan target-target tercapai. Segera sadari bila target tidak tercapai, analisis penyebabnya, lakukan perubahan rencana dan strategi.
Bila semua itu dilakukan, tidak akan ada kompetensi yang tidak bisa diraih. Tidak akan ada lagi mahasiswa yang lulus kuliah tanpa kompetensi. Untuk bisa mencapai semua itu, para mahasiswa harus membangun kebiasaan-kebiasaan positif. Kebiasaan terpentingnya adalah kebiasaan berpikir bahwa segala sesuatu dicapai melalui proses tadi. Proses itu sendiri dipraktikkan dan menjadi kebiasaan harian.
Bangun pagi dengan sejumlah rencana dan target hasil. Kerjakan rencana itu dengan tekun, pastikan hasilnya dicapai. Evaluasi bila ada hambatan. Ubah rencana bila diperlukan. Jalani lagi sampai berhasil. Kebiasaan ini yang akan memastikan tercapainya mimpi seseorang.

Hasanudin Abdurakhman
Perempuan yang Mengejar Mimpi
"Aku tak nak hidup macam ini terus," kata Emak. Ia mengeluhkan soal hidupnya bersama Ayah, di awal pernikahan mereka. Ayah bekerja sebagai buruh tadi, merawat kebun orang untuk mendapatkan upah. Dapat nafkah sehari habis dimakan hari itu juga. "Kita tak punya masa depan," kata Emak.
Tapi ia tak sudah dengan mengeluh saja. Ia ajak Ayah pindah ke kampung lain, untuk membuka lahan, membangun kebun. Emak bukan perempuan rumahan yang hanya mengurus rumah dan mengasuh anak. Ia ikut bersama Ayah, menebang kayu untuk membuka lahan. Dalam setiap perjuangan kekuarga kami, tak ada yang tidak dikerjakan Emak.
"Aku ini bodoh, karena aku dulu tak sekolah," kenangnya. "Maka aku tak ingin anak-anakku tak sekolah." Emak mengirim anaknya untuk bersekolah di kampung lain. Ia rela mendayung sampan 3 hari, sekadar untuk pergi menitipkan anaknya agar bisa masuk SD.
Emak lalu meminta Ayah untuk membangun sekolah bersama orang-orang kampung kami. Di sekolah itu ratusan anak kampung dididik untuk mengubah nasib.
Emak punya mimpi, dan ia berjuang mewujudkannya. Ia dicela dengan mimpinya itu. Ia dianggap tak tahu terima kasih karena merepotkan suami. Tapi Emak tak peduli. "Kalau tak dibantu, aku akan jalan sendiri," tegasnya.
Aku melihat banyak perempuan seperti Emak. Yang punya mimpi, dan tak mau dihalangi. Perempuan memang bukan sekadar pendamping laki-laki. Ia bukan sekadar pendukung perjuangan suami. Perempuan bisa dan boleh punya mimpi. Ia bahkan bisa memperjuangkannya sendiri.
Perempuan bukan pula beban suami, yang setiap permintaannya mesti dituruti. Ia adalah pejuang bagi kehendaknya sendiri.

Posting Komentar untuk "Anak Desa Masuk Hotel"